<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



May 4, 2005
Tebas G. Patuha - Kawah Putih

Bandung, 1 Mei 2005

Gunung Patuha adalah gunung yang berada di Bandung Selatan, tepatnya di daerah Rancabali, Ciwidey. Objek wisata yang menarik dari gunung ini adalah Kawah Putih.

Pendakian Gunung Patuha telah direncanakan sejak awal April 2005, dan baru dilaksanakan pada tanggal 1 Mei 2005. Pendakian direncanakan dengan menebas hutan, saya tuliskan dalam email di kantor; dengan informasi tentang Kawah Putih yang saya tulis lebih banyak, supaya banyak teman yang bersemangat untuk ikut.

Sesuai dengan perjanjian, kami berkumpul di kantor, jam 05.30; tetapi biasa kebiasaan buruk saya membuat tim menjadi terlambat.

Di kantor telah berkumpul teman-teman: Abdul Fattah, Arief, Fadli, Indarum, dan Wawan. Andriansyah, Ogun, dan Rusydan menunggu di terminal antar kota Leuwipanjang. Perjanjian bertemu di depan bus yang akan berangkat ke arah Ciwidey.

Tim berjumlah seluruhnya 9 orang. Tim dari kantor baru berangkat jam 06.10, sampai di Pasar Simpang Dago, saya belanja makanan kecil - odading - terlebih dahulu, karena belum makan pada saat berangkat dari rumah. Saya borong odadaing yang tersisa seharga 5 ribu rupiah.

Kami naik angkutan kota (angkot) Dago - Kalapa. Kebetulan, setelah melewati jalan Merdeka, isi angkot tersisa tim kami saja. Saya tanya kepada supir, apakah berani mengantar kami sampai ke Rancabali? Si supir, masih muda, berkata bahwa dia berani saja.

"Sabaraha?". (Berapa?).
"Kumaha Bapak wae", jawab supir. (Bagaimana bapak saja).
"Lima puluh rebu nya?", kata saya. (Lima puluh ribu ya..)
"Ulah sakitu atuh Pak, tambihan kanggo bensinna", kata supir. (Jangan segitu dong Pak, tambah lagi untuk bensinnya".
"Tos, genep lima", kata saya (Sudah enam puluh lima ribu saja).
Supir setuju.
"Ngan urang nyimpang heula ka Leuwi Panjang, da aya rerencangan anu ngantosan di ditu", kata saya. (Tapi kita harus ke terminal Leuwi Panjang terlebih dahulu, karena ada beberapa teman menunggu di sana).

Sepanjang jalan, saya dan Arief mencoba kontak teman-teman yang sudah menunggu di terminal, untuk segera menuju pinggir jalan, karena kita mencarter mobil angkot. Ogun dan Andri berangkat sendiri-senidri, sehingga kami mengontak secara orang per orang, karena ternyata mereka belum saling bertemu. Sebelum sampai di terminal, Andri berhasil dikontak dan suadh bergerak menuju pinggir jalan yang saya tentukan; tetapi Ogun tidak bisa dikontak-kontak; ternyata HP-nya di dalam tas, dan keadaan ramai sehingga tidak terdengar. So, kami belum ada kontak dengan Ogun. Rusydan dikontak ke HP-nya, ternyata ditinggal di rumah.

Sesampai di terminal Leuwi Panjang, saya coba kontak lagi Andri; karena ternyata salah tempat, dia berada di jalur seberang angkot kami. Ogun akhirnya berhasil dikontak juga, posisinya sudah tepat di depan bis yang akan berangkat ke Ciwidey. Kemudian kita bertemu di depan ATM Bank BCA yang ada di depan terminal Leuwi Panjang. Rusydan ternyata telah bertemu dengan Ogun, so, lengkap sudah tim kami.

Perjalanan dilanjutkan menuju Rancabali. Kami sekali berhenti untuk mengisi bensin, di daerah sebelum masuk ke Ciwidey.

Di Ciwidey, kami berhenti sebentar untuk membeli golok, makanan dan minuman bagi yang belum membawa bekal yang cukup.

Saya membeli 2 buah golok kerja orang kampung. 40 ribu rupiah dapat 2 golok, cukup murah, walaupun masih bisa ditawar lagi. Teman-teman masih belum sadar benar, mengapa saya memaksakan diri untuk membeli golok, karena beberapa kali naik gunung bersama saya tidak membawa peralatan seperti golok ini.

Setelah membeli golok, saya membeli dua botol air minum 600 ml, dan nasi bungkus dengan tahu dan tempe saja, karena saya tidak membawa bekal makanan selain sebungkus biskuit dan odading yang telah dimakan sebagian oleh teman-teman juga. Teman-teman lain tidak berminat membeli nasi bungkus, so hanya saya yang membawa nasi bungkus.

Dari Ciwidey kami melanjutkan perjalanan, ke arah Rancabali. Supir saya tanya, apakah mau menjemput kami nanti sore, sekitar jam 15-an; setelah saya mengetahui supir ini menjalankan mobil milik bapaknya, dan tidak dikejar target setoran. Supir menyanggupi. Saya kemudian memberitahukan ke lokasi mana dia harus menjemput. Pada saat melewati belokan ke arah Kawah Putih, saya memberitahu supir bahwa dia nanti sore harus masuk ke arah Kawah Putih, sekitar jam 15-an, dan biaya untuk masuk akan saya tambahkan. Kami sendiri tidak masuk ke Kawah Putih, karena kami akan mulai pendakian dari perkebunan teh Rancabali dan akan berakhir di Kawah Putih.

Sekitar 20-menitan dari Ciwidey, kami sampai di perkebunan teh Rancabali. Setelah mengamati daerah yang kami lalui, dengan melihat ke arah Gunung Patuha, maka saya meminta supir untuk berhenti di daerah belokan yang cukup datar, dan pemandangan ke arah Gunung Patuha cukup baik, walaupun pada saat itu Gunung Patuha sedang tertutup kabut; tetapi karena saya masih yakin dengan medan yang dulu saya kenal, semasa mahasiswa, sekitar 15 tahunan yang lalu.


Puncak Patuha terlihat samar menjulang

Kebetulan tempat kami berhenti ada warung mie telor. Ada bapak penunggunya yang sambil menunggu pembeli sedang melakukan pengaritan, saya bertanya untuk lebih meyakinkan diri tentang medan yang akan kami lalui. Karena dari 9 orang, hanya saya yang tahu tentang medan yang akan kami lalui, beberapa teman sudah pernah ke Kawah Putih tetapi belum pernah ke puncak Gunung Patuhanya.


Bertanya pada penduduk

Tepat jam 08.50, kami mulai melakukan perjalanan.

Target pertama perjalanan yang kami lalui adalah segera menyeberangi kebun teh, untuk mencapai punggungan gunung yang terendah. Saya memilih punggungan yang sebenarnya lembah antara dua punggungan besar. Lembah ini berupa punggungan yang rendah yang memungkinkan awal perjalanan kami tidak terlalu mendaki.


Menyeberangi kebun teh

Pada punggungan yang kecil ini, kami berjalan pada padang rumput liar yang tinggi-tinggi. Jika diamati, ternyata punggungan ini adalah bekas kebun sayur, terlihat banyak bekas tanaman kebun seperti waluh.

Sepanjang perjalanan ini kami menemukan banyak sekali tanaman yang bisa digunakan survival, seperti bobontengan (mentimun hutan) dan cecendet (seperti tomat tapi kecil). Kami sempat berhenti untuk mencoba rasa bobotengan.


Bobontengan

Akhirnya kami sampai pada ujung punggungan, dan harus menyeberang ke punggungan yang lebih landai untuk menuju puncak. Akhirnya kami melipir (menyisir) punggungan, untuk tidak masuk ke dalam lembah yang lebih lebat. Akibatnya memang kami harus naik ke punggungan yang sebenarnya dengan lebih curam.


Naik punggungan

Golok kami mulai bekerja, teman-teman baru mulai sadar, bahwa perjalanan ini tidak sekedar naik gunung dengan menggunakan jalan setapak yang sudah umum digunakan oleh para pendaki. Sebagian masih ragu, apakh benar ini Gunung patuhanya, karena kami memang tidak membawa peta sama sekali, hanya ada kompas yang sekedarnya. Saya hanya bisa meyakinkan bahwa benar ini jalannya, hanya saja ini jalur baru, karena saya sendiri beberapa kali ke Gunung Patuha, selalu mengambil arah lebih ke Barat.

Mengapa saya beli golok, karena memang saya sendiri di dalam email sudah menjelaskan bahwa kita akan melakukan penebasan hutan untuk mencapai puncaknya. Hanya saja teman-teman tidak terlalu memperhatikan, dikira akan melakukan perjalanan seperti biasa, lewat jalan setapak. Saya membeli golok di tengah perjalanan, karena saya malas keluar kantor, bukan ingin memberi kejutan tentang perjalanan pendakian yang dilakukan saat ini.

Kami mulai masuk ke dalam hutan yang sebenarnya, ada beberapa bekas jalan orang yang menebang kayu. Hanya saja, bekas mereka lebih berbelok-belok, tidak lurus ke puncak; tentu saja karena tujuan berbeda. Kami menuju puncak dengan mengambil jalan lurus ke atas, yang penting lurus dan mendaki, jika ada arah yang menurun menuju lembah, kami hindari.


Dalam Hutan

Patokan kami adalah berjalan terus, tetap pada punggungan, jangan sampai masuk ke dalam lembah. Seingat saya, berdasarkan peta Gunung Patuha, blok jalur dilalui ini memiliki medan yang seragam, tidak memiliki banyak jalur naik turun untuk menuju puncak.

Teman-teman sebagian masih belum yakin, benar tidaknya. Karena kesalahan fatal sebenarnya yang kami lakukan adalah tidak membawa peta topografi. Hanya mengandalkan ingatan saya saja, kami berangkat dan mendaki.

Penebas di depan bergantian, saya, Fattah, Andri, Indarum, dan Rusydan. Ogun di belakang bersenjata tongkat, yang digunakan untuk membuka jalan yang sudah dibukan oleh penebas.

Jika sebelumnya, kami masih dapat menikmati pemandangan yang indah, hamparan pekebunan teh, padang alang-alang, dan tumbuhan-tumbuhan khas pegunungan; kini kami harus memandang sekeliling adalah pohon-pohon besar, berlumut.

Kami harus berhati-hati, karena sepanjang perjalanan sekarang banyak semak yang berduri.; terutama arbei hutan dan brotowali. Jalan yang kita injak pun harus hati-hati, karena bisa jadi berupa tanah humus yang gembur sekali, terkdang kita juga berjalan di atas pohon tumbang yang sudah lapuk dan rapuh.

Beberapa kali kita harus naik pohon tumbang yang melintang. Harus hati-hati juga karena licin.

Penebasan sudah mulai masuk ke daerah yang lebat, samar-samar kita masih bisa mendengar suara motor dan mobil. Terasa dekat. Tapi untuk kembali lagi ke bawah dengan jalan yang telah kami lalui, wah jangan dikira mudah. Kami hanya bisa bergurau menghibur diri, karena sebagian merasa ragu, benar tidak ini Gunung Patuha, jangan-jangan Gunung lain, sehingga muncul joke kita sedang berjalan di Gunung Patuha yang lain PatuhB,; hahaha...


Suasana makan siang

Tepat ketika suara adzan Dluhur berkumandang terdengar, kita berhenti, melihat jam. Jam 12 lewat, tapi kita belum sampai juga. Berapa lama lagi kami bakal sampai pun, kami tidak tahu.

Diputuskan untuk berisitirahat sambil makan siang degan menggunakan bekal yang dibawa masing-masing. Leupeut (kalau orang Jawa menyebut buras), odading, biskuit-biskuit, dan minuman energi dikeluarkan. Hanya saya yang mengeluarkan nasi, tidak ada yang berminat makan nasi lagi, jadi saya sendiri makan. Barangkali karena lauknya hanya tahu dan tempe saja, jadi tidak ada yang berminat.

Kami makan sambil berfoto-foto dengan lingkungan di sekeliliing kami pohon-pohonan yang berlumut saja.

Sekitar setengah jam kami beristirahat, sudah cukup segar lagi badan kami.

Rusydan dan Fattah di depan. Orang-orang muda yang di depan, haha.., maklum tim kami, punya jarak umur lebih dari 10-tahunan.

Beberapa medan yang kami lalui, cukup merepotkan, karena kami harus membuka jalan sendiri. Ada satu titik yang dibuka oleh Fattah, menyulitkan sekali. Saya kebetulan di depan tepat di belakang Fattah, memang jalurnya sulit sekali, karena daerah sekelilingnya juga rapat.

Pada titik ini, kami menunggu semua teman untuk bisa sampai ke tempat saya dan Fattah terlebih dahulu sampai. Hampir 15 menit lamanya, menunggu sampai semua bisa melewati jalur ini; karena pegangan untuk naik melewati jalur ini tidak ada, benar-benar mengandalkan kerjasama untuk dapat menginjak tanah yang tidak luruh.

Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan. Golok yang baru kami beli, mulai rusak satu per satu, karena kita tidak sempat menguatkan dudukan golok pada gagangnya. Fattah sebagai penebas utama, menggunakan golok yang paling lumayan.

Golok Hilang.
Puncak dari akibat kerusakan golok-golok ini adalah pisau golok yang dipegang Fattah hilang, pada saat menebas batang yang menjalar yang berduri. Hanya saja, batang yang menjalar ini lentur, sehingga harus beberapa kali ayunan. Karena dudukannya sudah longgar, pisau golok ini loncat, dan menghilang. Kemungkinan besar ke bawah dari pohon tumbang. Karena setelah dicari di sekeliling di permukaan, tidak ditemukan.

Akhirnya diputuskan golok yang lepas ini dianggap hilang, dan kami kemudian melanjutkan perjalanan. Fattah kemudian meminjam tongkat yang dibawa Ogun, untuk membuka jalan; dengan memukulkan tongkat kepada semak-semak.

Untungnya golok hilang sudah menjelang puncak, terlihat dari variasi tanaman yang ada. Pohon centigi (cantigi), paku khas puncak, dan rumput-rumput liar yang umumnya ada di puncak gunung sudah terlihat.

Akhirnya, pukul 13.30, setelah empat setengah jam berjalan, kami sampai di puncak Patuha. Kemudian kita berbelok ke arah timur, untuk mencari tempat yang agak datar. Akhirnya kami mendapatkan tempat yang agak datar, tetapi rimbun, untuk berfoto-foto sebentar.

Setelah mengamati daerah sekitar puncak ini, diputuskan untuk kembali arah, untuk mengeliliingi puncak Patuha untuk mencari jalan setapak turun menuju Kawah Putih.

Saya sendiri, masih belum tahu berapa jauh lagi jalan setapak untuk turun ke Kawah Putih akan ditemukan, karena sudah lebih dari 10 tahun saya tidak pernah ke gunung ini.

Akhirnya, ditemukan satu tempat sesajen yang biasa saya jadikan sebagai target sampai di puncak Patuha ini. Terlihat sesajen yang masih baru beberapa hari, tembakau dan rokok yang ditinggalkan di tempat sesajen ini masih terlihat agak segar.

Kami berfoto-foto lagi di tempat ini, dan beristirahat sebentar, karena tempatnya lebih lapang. Sempat juga kami memanen arbei hutan yang sedang siap petik di puncak ini. Tentu saja, berasa asam.


Sampai di Puncak

Wawan pada saat turun, mulai merasa kesakitan pada lututnya. Sakit yang biasa diderita jika sudah berjalan mendaki dan lebih dari empat jam.

Ternyata kami harus berkelilin glebih dari setengah keliling puncak Patuha, sebelum akhirnya menemukan jalan menuju Kawah Putih.

Akhirnya sampai juga kami di lapang parkir objek wisata Kawah Putih, setelah berjalan sekitar 50 menit dari puncak.

Kami langsung, menuju pinggir Kawah Putih untuk berfoto-foto lagi.


Berfoto di Kawah Putih

Acara pendakian ini diakhiri dengan menuju warung di wilayah tempat parkir objek wisata Kawah Putih, dengan memesan nasi goreng dan mie telur, dengan minuman penghangat bandrek.

Angkot yang kami pesan, akhirnya sampai juga, setelah kami kira tidak akan datang.

Jam 18.30 kami sampai kembali di kantor.

Puas... perjalanan ini berakhir dengan sukses.

Kami berencana berikutnya adalah Papandayan.... wait for the next journey report

Catatan:
Bagi penulis, mendaki Gunung Patuha dengan menebas adalah nostalgia, jaman pendidikan dasar untuk menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi ITB - GEA.

Tetapi kali ini penulis mendaki dengan menebas bersama dengan teman-teman satu kantor kerja di Bandung, PT Sigma Delta Duta Nusantara; merupakan kegiatan rutin olah raga kantor di akhir minggu.

Kali ini saya berangkat hanya bersama dengan teman-teman kantor, kedua anak saya tidak ikut, malas dengan perjalanan untuk menuju tempat start yang bisa memakan waktu lebih dari dua jam. Di sisi lain, saya sendiri tidak memaksa, karena sore harinya mereka harus ikut kursus Bahasa Inggris.


Posted at 07:02 pm by betha
Comments (2)